Seorang
teman Titus datang menghampiri dengan sepedanya. “Titus, main yuk..”
Dengan mainan truk-trukannya Titus pun mengikuti anak laki-laki ini
bermain.
Lalu ada lagi anak perempuan dengan sepedanya datang menghampiri Titus.
Tepatnya sih gak menghampiri cuma sembari lewat. Si anak perempuan ini pun berkata: “Titus aku dong udah bisa naik sepeda roda 2. Kamu udah bisa belom?”
Tepatnya sih gak menghampiri cuma sembari lewat. Si anak perempuan ini pun berkata: “Titus aku dong udah bisa naik sepeda roda 2. Kamu udah bisa belom?”
“Belom”
“Hah??
Belom bisa? Iiiihhh.. gampang tauuu.. nih begini niiihhh..” alih-alih
si anak perempuan itu mengajarkan Titus bagaimana bersepeda roda dua.
“Kamu belajar doooonnggg..kapan bisanya kalo gak belajar.” Kata si anak perempuan, turun dari sepeda dan berdiri di depan Titus.
“aku belajar (naik sepeda roda dua) sama papa aku,” kata teman satunya
“iya, nanti aku juga mau belajar sama bapak”, Titus masih santai
“emang umur kamu berapa tahun. Aku udah 5 tahun.. udah gede. Kan aku udah bisa sepeda roda 2, berarti aku udah gede.”
“sama, aku juga 5 tahun” Titus terlihat mulai agak jengkel
“iiihhhh..harusnya
5 tahun itu sudah bisa sepeda roda 2.. kamu kok belum bisa?? Iiihhhh..
kalo gitu sama dong kayak dedek-dedek, gak bisa..” ini anak perempuan
mulai nyolot, ngeledek. Sambil sesekali tangannya menunjuk-nunjuk ke
arah Titus.
“....”
Titus terlihat semakin juengkel. Tapi diam saja. Terlihat tangannya
meremas-remas kartu yang sedang dipegangnya. Saya tahu hatinya kesal
sekali. Dan saya pun melihat bagaimana dia berusaha untuk tetap menjaga
diri. Dan saya pun menunggu apakah dia juga bisa membela dirinya?
“iiihh..kasian
deh kamu gak bisa sepeda roda dua.. gak kayak kita yaaa, sudah bisa
sepeda roda dua..” si anak perempuan mencari dukungan ke temannya si
anak laki-laki tadi.
Lama
kelamaan si anak perempuan ini semakin senang meledek Titus. Malah
boleh dibilang sudah termasuk BULLYING. Terlihat bagaimana sikapnya yang
meledek, mejulurkan lidah sambil menunjuk-nunjuk. Nampaknya senang dan
ada kepuasan melihat ada temannya yang gak mampu.
“weeeww..weeeewww..weeewww... kasian deh lo, gak bisa sepeda roda dua...HA.HA.HA.HA..”
OK.. Enough. Harus di cut. Reaksi Titus pun diam saja. Rasanya saya mau jitak itu anak...hehehe..
“(menyebut nama anak perempuan itu) kamu bangga ya kamu sudah bisa naik sepeda roda dua?” kata saya memotong aksi BULLYINGnya
“iya dooonnnggg...”
“ow ya? Kamu bisa naik motor gak?”
“ (bengong) gak bisa..”
“oh.. tante sudah bisa naik motor. gak sombong, biasa aja..”
“uh.. terus aku harus bilang WOW gitu??”
Wuuaaahhh...asli
nih anak nyolot banget. Sombongnya sampe ke ubun-ubun. Dan yang bikin
kesel to the max.. emaknya ada di deket situ, cuma memandang itu anak
dengan tersenyum..*duueeennggg..
“Ok,
kamu emang bisa sepeda roda dua..tapi inget. Gak perlu sombong. Masih
ada yang lebih hebat dari kamu. Cantik-cantik kok sombong sih..jangan
sombong dong. nanti banyak yang gak suka lho sama kamu.” (gak usah
nanti, sekarang aja saya sudah gak suka sama kesombongannya..)
Si anak melengos dan pergi..
Saya melihat Titus tersenyum. Lega. Saya pun tersenyum. Puaaasss..bisa kasih pelajaran sama itu anak.
Saya pun memegang pundak Titus: “Are you OK?”
Titus pun mengangguk.
Malamnya, setelah cerita malam sebelum tidur, biasa deh kita suka evaluasi dan saya mengevaluasi kejadian tadi sore.
I: Perasaan kamu gimana tadi?
T: gak papa..
I: bener gak papa?
T: iya
I: Gak kesel? Gak marah?
T: gak
I: are you sure?? Beneeeerrr?? Coba cek dalam hati kamu. Kamu kesel gak digituin?
T: hhmmm..iya sih..tapi dikiiitttt
(Ya ampun baek bener yak ni anak..hehehe..)
I: suka gak digituin?
T: gak suka
I:
Titus, kalau kamu gak suka diperlakukan seperti itu, kamu berhak bilang
gak suka. Nih, ibu mau kenalin kata baru yang namanya BULLY
T: hah? Apa itu?
I:
Bully itu mempermalukan atau mengejek orang lain. orang yang membully
itu pasti merasa paling hebat dan senang melihat ada orang lain yang gak
bisa, makanya diledekin, dipermalukan. Dibikin malu.
T: oohh.. ibu tau gak kenapa tadi aku diam aja?
I: kenapa?
T: karena aku tau Tuhan pasti akan tolong aku.. dan satu lagi, ada roh kudus di dalam hati aku yang melindungi aku
(Aduuuhhh.. merinding dan mau nangis dengernya..)
I:
tapi Titus juga harus belajar satu hal, Titus harus berani bilang 'gak
suka' atau 'cukup' waktu teman kamu perlakukan kamu gak baik. Dan Ada 2
hal yang ibu gak suka dari temen kamu itu: 1. Dia sudah membully kamu.
2. Sombong, 3. Dia gak punya good manner and attitude to adult
T: maksudnya gak good manner?
I: kamu lihat gak bagaimana cara dia ngomong sama ibu? Menurut kamu itu sopan atau gak?
T: iya..ya.. gak sopan
I:
dan yang paling ibu juga gak suka, ibu lihat kok ada mamanya di dekat
situ. Mamanya lihat apa yang anaknya perbuat ke kamu. Tapi mamanya diam
saja. Gak melakukan apapun. Berarti, mungkin niihh.. teman kamu gak di
didik dirumah bagaimana memperlakukan teman dengan baik, bagaimana
berbicara sopan, bagaimana harus respect sama orang lain.
T: iya.. terus dia juga sombong
I:
yaaahh.. boleh sih kita bangga kalau kita bisa sesuatu. Tapi
hati-hati, kalau berlebihan jadinya sombong deh. Kalau kita melihat ada
teman yang belum bisa, bukan diledek, tapi dikasih semangat. ‘oh kamu
belom bisa ya? Gakpapa. Kita belajar sama-sama ya..aku mau kok ajarin
kamu’ kayak gitu misalnya. Bukan diledek, dipermalukan.
(Saya
mencoba membangkitkan kembali kepercayaan dirinya dengan memberikan
contoh-contoh. Pencapaian-pencapaiannya. Keberhasilan dia. Yang dulunya
masih susah sekarang sudah bisa. Dan terlihat PDnya mulai muncul)
I: terus kita harus gimana?
T: hmm.. kita berdoa ya buat dia
(Suatu langkah yang menakjubkan.. truly amaze, Titus bisa bilang seperti ini)
I: doa gimana?
T: berdoa minta Tuhan buat dia gak sombong lagi. Minta Tuhan, biar dia bisa respect.
I:
kita doakan mamanya juga ya, supaya bisa mendidik anak-anaknya dengan
benar. Dan berdoa buat Titus juga. Supaya Titus punya keberanian untuk
mengatakan “TIDAK” sama hal-hal yang buat kamu gak suka atau gak
nyaman..
(Memang
di satu sisi saya pun melihat Titus kurang dalam hal membela diri.
Reaksinya masih diam padahal sudah gak suka dan jengkel).
T: iya ibu
Dan
malam itu kami berdoa untuk teman Titus dan keluarganya. Titus sendiri
yang pimpin doanya. Mendengar doanya membuat saya terharu akan kebaikan
hatinya, kepolosannya. Pengen nangiiisss.
Hari
ini kami sama-sama belajar. Dan kami berterima kasih untuk pembelajaran
yang Tuhan berikan. Kedepannya saya yakin akan ada lagi hal-hal yang
menguras emosi, membentuk karater dan memperkuat imannya.
Sebelum
tidur, Saya pun mengatakan bahwa saya ada untuk dia boleh berkeluh
kesah. Kalau ada yang bikin dia kesal, saya menyediakan diri, waktu dan
pikiran saya untuk bisa dicurhatin. Kapan aja. Saya melihat senyum
tersembul di wajahnya. Kebanggaan dan rasa Pdnya muncul.
I:
Titus, satu hal yang harus kamu ingat. Mau kamu gak bisa naik sepeda
kek, apapun yang diledekin temen kamu, kamu tetep anaknya ibu, ibu tetep
ada buat kamu. Ibu bangga sama kamu. Kamu spesial, kamu berharga di
mata Tuhan. Jangan terus jadi sedih dan gak percaya diri ya..
T: iya ibu..
Kami berpelukan, dan gak lama, dia pun tertidur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar