Selasa, 19 Maret 2013

Say What You Mean and Mean What You Say

Kalau sore saya suka ajak anak-anak jalan-jalan diseputaran blok kompleks. Entah mereka mau main bola, sepeda, atau apa saja yang bisa dijadikan permainan.
Suatu sore, anak sulung saya membawa gambar yang dia gunting dari kertas kado. Gambar Angry Birds digunting persegi panjang menyerupai kartu. Gambar itu dia taruh di bak truk-trukkannya.
Bermainlah dia dengan adiknya- Jovita. Membawa truk-trukkan dengan gambaran Angry Birds di bak truk.
Sampai datanglah anak tetangga, laki-laki sepantaran Jovita. Berumur hampir 3 tahun.

Dia menghampiri dan melihat gambaran punya Titus. Si anak ini tiba-tiba mengambilnya dari bak truk. Titus protes sembari bilang secara halus, "kamu mau pinjam? boleh aja. Tapi bilang dulu.."
Si anak tetap saja memegang gambaran itu, tidak ada sepatah kata keluar dari mulutnya.
Jovita, yang mulai terlihat emosi. "Bilang pinjem dulu, " gitu katanya.
Tapi tetep gak digubris.
"Sorry ya, kalau gak bilang pinjem, aku gak mau kasih," kata Titus.
Anak ini mulai merengek tapi rela gambarannya diambil lagi oleh Titus.
Si anak merajuk minta mamanya menolong dia.
Dan ini yang dikatakan si mama:
"Apa siihh? Oh gambaran kayak gitu doang.. Udah jangan nagis, ntar kita beli.."
Si anak masih merengek, dan si mama pun kembali mengatakan: "Iya..iya..nanti beli.."
Merasa di konfirmasi, si anak pun diam, tidak lagi merengek.

Kemudian saya berfikir, apakah sungguh si mama akan membelikan itu pada anaknya?
Alih-alih untuk membuat anaknya terdiam sejenak dari rengekan terus kita bilang aja sekenanya, yang bukan sesungguhnya. Eh.. bohong dong ya?

Kadang kita, saya, suka terjebak dengan rengekan anak yang meminta sesuatu. Komprominya: yaaa udaahh laahhh dari pada nangis, daripada merengek, berisik.. atau iyaaa udaahhh bilang aja ntar dibeliin, besok juga dia lupa.

Tapi  yaaa.. waktu saya kecil, kalau dijanjikan sesuatu, saya pasti ingat. Besoknya akan saya tagih. Kalau gak tepatin janji, saya sedih banget. Dan saya sudah gak percaya lagi kalau dijanjikan sesuatu. Saya pikir, ah..pasti hanya sebatas omongan doang.. gak ada buktinya, gak ditepati..

Di peristiwa ini, sepele siihhh. Si anak merengek minta gambaran dan si mama bilang mau beliin.
Mungkin dilihat cuma gambaran yang yaaahh..gak mahal-mahal amat laaahh..
Tapi kebayang gak seiring dengan bertumbuhnya si anak, saat ini memang mintanya baru gambaran, ntar gede dikit minta sepeda, PSP, HP, Motor, Mobil??? Karena dia lihat temen-temennya punya itu dan dia pun gak mau kalah.
Apakah setiap kali si anak merengek minta sesuatu harus dibeliin?
Akankah si mama masih bisa bilang: "iyaaa..nanti kita beli"



Saya jadi teringat kalimat ini:  

Say what you mean and mean what you say.

Kalau mengatakan mau membelikan ya belikan. Kalau gak niat membelikan jangan bilang mau membelikan. Jadi konsisten.
Kalau orang tua tidak konsisten dengan apa yang dikatakan, anak akan bingung. Kemudian kepercayaan anak akan berkurang. Dan akhirnya tidak respek terhadap orangtuanya. Lah gak konsisten gitu. Bilangnya A, tapi maksudnya B.

Ok..Ok.. saya bukan ibu yang sempurna yang punya anak-anak seperti malaikat, baik-baiiikkk semua..hehe:) Gak kok.. mereka masih sering bikin saya kesel.. :)
Saya juga bukan bermaksud menggurui.
Tapi dari peristiwa itulah saya kembali diingatkan. Kembali belajar tentang konsistensi melalui kata-kata yang diiucapkan.

Katakan apa yang saya pikirkan/maksudkan dan Pikirkan apa yang mau saya katakan.

Jadi kata-kata yang terucap itu mengandung berkat, gak asal bicara saja. Tujuannya jelas, saya mau mendidik mereka menjadi lebih baik seperti yang Tuhan mau.

We want to grow in God's way..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar